HYU: Jangan Seret PGI ke Politik Praktis, Mari Sukseskan HUT ke-75 dengan Damai

Jayapura, Papua – Menyambut Hari Ulang Tahun ke-75 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) yang akan digelar pada 24-26 Mei 2025 di Kota Jayapura, Relawan MARI YO MANIA menyatakan kesiapan penuh untuk menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.

Ketua Umum Relawan MARI YO MANIA, Hendrik Yance Udam (HYU), menegaskan bahwa relawan yang mendukung pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, Matius Derek Fakhiri dan Aryoko Rumaropen, siap terlibat secara aktif dalam menyukseskan acara rohani terbesar tersebut.

“PGI adalah simbol persatuan gereja-gereja di Indonesia, termasuk di Tanah Papua. Kami, relawan MARI YO MANIA, merasa menjadi bagian penting dari umat dan siap berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan HUT ke-75 PGI,” tegas HYU kepada sejumlah wartawan di Jayapura (Senin 20/5)

Dalam semangat pelayanan dan kepedulian sosial, HYU menyebutkan beberapa bentuk kontribusi yang akan dilakukan relawan, seperti  terlibat dalam  kegiatan PGI yaitu penanaman 1.000 pohon untuk melestarikan alam ciptaan Tuhan, dukungan untuk pengobatan gratis, serta pengorganisasian donor darah bekerja sama dengan PMI.

Selain itu, relawan juga akan menggelar seminar bertema Kebangsaan, Kebhinekaan, dan Perdamaian, sejalan dengan nilai-nilai Oikoumene yang diusung PGI.

Namun, HYU juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang menjadikan perayaan ini sebagai alat kampanye politik, khususnya dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilgub Papua. Pernyataan ini menanggapi pertemuan 62 sinode gereja di Papua yang beberapa waktu lalu mengadakan ibadah bersama di kediaman calon Gubernur Benhur Tomi Mano (BTM).

“Kalau ibadah atau pertemuan itu hal wajar, tapi jangan sampai diklaim bahwa PGI mendukung pasangan calon tertentu seperti BTM dan CK. Itu sangat keliru. PGI adalah lembaga netral milik semua umat Tuhan di Indonesia,” tegas HYU.

Ia mengajak semua pihak, termasuk para kandidat  calon gubenur dan wakil gubenur papua , untuk tidak menyeret PGI ke dalam ranah politik praktis. “PGI adalah aset bangsa dan negara. Tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan politik elektoral karena ini akan merusak netralitas dan misi pelayanan gereja,” imbuhnya.

HYU menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh umat Kristen di Papua untuk menjaga kesucian momentum HUT PGI sebagai ruang rohani, bukan ajang politik. “Mari kita jaga PGI sebagai lembaga pemersatu umat, bukan sebagai alat kepentingan politik identitas yang dapat memecah belah persaudaraan di Tanah Papua.”

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *