HYU Nilai Kepemimpinan MDF Cerminkan Nilai Kasih, Persatuan, dan Toleransi di Tanah Papua

JAYAPURA — Gubernur Papua, Matius Derek Fakhiri, menyerahkan bantuan sebesar Rp3 miliar untuk mendukung penyelesaian pembangunan Gedung Kantor Klasis Port Numbay di Kota Jayapura. Bantuan tersebut disampaikan di hadapan pimpinan gereja, tokoh adat, tokoh agama, dan puluhan jemaat sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pelayanan gereja dan kehidupan sosial masyarakat. (minggu 14/2/2026)

“Pemerintah hadir untuk mendukung pelayanan umat. Dari Gubernur, saya bantu Rp3 miliar untuk pembangunan kantor klasis ini,” ujar Fakhiri dalam sambutannya.

Gedung Kantor Klasis Port Numbay dirancang setinggi empat lantai dengan progres pembangunan yang telah mencapai sekitar 60 persen dan ditargetkan rampung pada Oktober 2026. Selain bantuan pembangunan, gubernur juga menyinggung pentingnya peran lembaga pendidikan gereja, khususnya YPK, dalam membentuk generasi Papua yang berkarakter. Ia juga berharap kawasan Taman Imbi dapat ditata menjadi ruang publik kreatif bagi masyarakat Jayapura.

Bantuan tersebut mendapat perhatian publik, mengingat dinamika politik pada Pilkada Papua sebelumnya, ketika Sinode GKI di Tanah Papua secara terbuka memberikan dukungan kepada pasangan calon gubernur Benhur Tomi Mano dan Constan Karma. Namun, pasangan Matius Derek Fakhiri bersama wakilnya Aryoko Rumaropen akhirnya terpilih memimpin Papua.

Menanggapi hal tersebut, tokoh nasional asal Papua Hendrik Yance Udam (HYU), Ketua Umum  Dewan Pimpinan Nasioanl Gerakan Rakyat Cinta Indonesia ( Dpn Gercin Indonesia ) , menyampaikan apresiasi atas langkah gubernur.

“Saya sebagai warga GKI di Tanah Papua menyambut baik dan mengapresiasi bantuan Rp3 miliar dari Gubernur Papua untuk pembangunan Kantor Klasis Port Numbay. Ini adalah bentuk kepemimpinan yang mengedepankan persatuan,” kata HYU di Jayapura, Senin (16/2/2026).

Menurut HYU, tindakan gubernur mencerminkan nilai kasih dan pengampunan yang diajarkan Yesus Kristus.

“Pak MDF menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan soal membalas perbedaan dengan kemarahan, tetapi menjawabnya dengan kasih. Sekalipun pernah menghadapi kritik dan penolakan, beliau memilih merangkul dan membangun bersama,” ujarnya.

HYU menambahkan bahwa sikap tersebut menjadi contoh politik demokrasi yang dewasa sekaligus simbol toleransi di Tanah Papua.

“Pilkada telah selesai. Kini saatnya semua pihak meninggalkan perbedaan dan kembali merajut persaudaraan sebagai sesama anak Papua. Kasih mempersatukan, dan pengampunan memulihkan. Tanpa pengampunan, masyarakat mudah terjebak dalam perpecahan,” katanya.

Ia juga mengutip pesan Injil tentang kasih sebagai dasar kehidupan bersama.

“Kasih bukan hanya kata-kata, tetapi tindakan nyata  menolong, memahami, dan tetap berbuat baik bahkan ketika disakiti. Inilah kekuatan rohani yang memerdekakan hati dan mempersatukan masyarakat Papua,” tutup HYU.

Dengan dukungan pembangunan Kantor Klasis Port Numbay, diharapkan pelayanan gereja semakin representatif serta mampu memperkuat kehidupan spiritual dan sosial masyarakat di Jayapura (Penulis Jamaludin/Editor Vio )

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *