Kepanikan Politik BTM,Lawan Tak Diserang dengan Gagasan, Tapi dengan Kebencian

Jayapura, Suhu politik Papua menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilgub Papua pada 6 Agustus 2025 makin memanas. Kampung Yoka, Distrik Heram, kini menjadi pusat perhatian publik setelah Calon Gubernur Papua, Matius Derek Fakhiri (MDF), kembali mengunjungi kampung tersebut untuk kedua kalinya dalam rangka jalan santai, pengobatan gratis, dan peresmian Posko MARI YO. ( Sabtu 19 Juli 2025)

Namun sayangnya, momen kebersamaan dan pelayanan itu nyaris dinodai oleh aksi provokasi dari salah satu oknum yang dipengaruhi alkohol, yang tiba-tiba berusaha membuat keributan dan mengacaukan jalannya kegiatan. Oknum tersebut bahkan diduga kuat mendapat instruksi dari kubu Calon Gubernur Benhur Tomi Mano (BTM) untuk melakukan sabotase politik.

Ironisnya, alih-alih meminta maaf atas ulah oknumnya, pihak BTM-CK justru melontarkan narasi bohong di media sosial, menyatakan bahwa MDF diusir dari Kampung Yoka dan menyebut kampung tersebut sebagai “basis eksklusif” BTM. Klaim itu segera dibantah keras oleh Ketua Umum Relawan Mari Yo Mania, Hendrik Yance Udam (HYU).

“Jangan tipu rakyat Papua dengan hoax murahan! Bapak MDF disambut penuh cinta dan suka cita oleh masyarakat Kampung Yoka, bukan diusir. Justru rakyat antusias mengikuti jalan santai dan pengobatan gratis. Yang ribut itu cuma satu orang — dan itu pun utusan BTM,” tegas HYU saat memberi keterangan langsung di lokasi.

HYU juga membongkar fakta bahwa oknum pengacau tersebut adalah bagian dari tim sukses BTM-CK, dan sebelumnya justru orang yang mengantar BTM masuk ke Kampung Yoka. Namun karena melihat sambutan luar biasa masyarakat kepada MDF, mereka menjadi panas dan tak bisa menahan kepanikan politik.

“Ini bukti bahwa mereka sudah kehilangan arah dan kehabisan ide. Yang tersisa hanya fitnah, kebencian, dan upaya sabotase. Tapi masyarakat Papua sudah cerdas, mereka tahu siapa yang tulus melayani dan siapa yang hanya haus kuasa,” ujar HYU lantang.

Lebih mengejutkan lagi, meski punya alasan kuat untuk memproses hukum oknum tersebut, MDF memilih untuk mengampuninya. Dengan sikap kebapakan dan kasih yang menembus batas politik, MDF menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang merangkul, bukan memukul.

Pada akhirnya, oknum tersebut mengakui kesalahannya dan meminta maaf secara terbuka. Rakyat Papua pun mulai terbuka matanya bahwa narasi yang dimainkan oleh pendukung BTM-CK adalah bentuk kepanikan atas merosotnya elektabilitas mereka.

“Kepada seluruh masyarakat Papua, saya tegaskan — MDF tidak pernah diusir dari Kampung Yoka. Semua tuduhan itu hoax dan tidak berdasar. Jangan mau dibodohi oleh narasi penuh kebencian!” pungkas HYU.

Di tengah memanasnya situasi politik, Relawan MARI YO justru terus menyebarkan pesan damai, pelayanan, dan kasih kepada masyarakat. Dan HYU kembali mengingatkan:

“Tanggal 6 Agustus, pilih pemimpin yang terbukti membawa damai dan pelayanan sejati. Pilih Nomor Urut 2: Matius Derek Fakhiri – Aryoko Rumaropen. Mari Yo, Papua Bangkit Bersama!”

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *