Tiga Kekuatan MDF Jadi Alasan Utama Layak Pimpin PSSI Papua

Jayapura — Dinamika perebutan kursi Ketua PSSI Provinsi Papua kian memanas. Pro dan kontra bermunculan, namun di tengah perdebatan itu, nama Komjen Pol (Purn) Matius Derek Fahkiri (MDF) terus menguat sebagai sosok yang dinilai paling layak memimpin arah baru persepakbolaan Papua.

Dukungan tegas datang dari Kepala Biro Komunikasi, Informasi, dan Penggalangan Opini DPD I Partai Golkar Papua, Hendrik Yance Udam (HYU). Ia menyampaikan pandangannya usai menyaksikan laga Persipura melawan Persiku Kudus di Stadion Lukas Enembe, Kabupaten Jayapura, Minggu (3/5/2026).

Menurut HYU, Papua tidak hanya membutuhkan figur biasa, tetapi pemimpin dengan kapasitas strategis dan pengaruh kuat.

“Ini bukan sekadar jabatan organisasi. Ketua PSSI Papua harus mampu membuka jalan besar bagi masa depan sepak bola Papua. Dan saya melihat itu ada pada Pak MDF,” tegas HYU.

Ia menilai, ada tiga kekuatan utama yang membuat MDF layak memimpin PSSI Papua dan membawa sepak bola daerah ini naik kelas hingga level nasional bahkan internasional.

“Pertama, beliau punya akses ekonomi yang kuat. Sepak bola butuh pembiayaan besar, dan itu tidak bisa dihindari,” ujar HYU.

“Kedua, jaringan beliau sangat luas. Ini penting untuk membuka koneksi ke pusat, sponsor, hingga peluang kompetisi yang lebih tinggi,” lanjutnya.

“Ketiga, latar belakang beliau sebagai jenderal bintang tiga Polri yang sudah paripurna. Ini soal kepemimpinan, disiplin, dan kemampuan mengelola organisasi besar,” tambah HYU.

Lebih jauh, HYU menilai kritik yang menyebut MDF tidak memiliki latar belakang sepak bola adalah pandangan yang keliru dan dangkal.

“Banyak yang tidak tahu, Pak MDF juga pernah bermain sepak bola. Bahkan saat bertugas di Kalimantan, beliau aktif bermain dan pernah memperkuat PS Palapa di Divisi Satu Persipura. Jadi jangan meremehkan pengalaman beliau,” tegasnya.

Dalam pandangannya, membangun sepak bola Papua bukan perkara sederhana. Dibutuhkan kepemimpinan kuat yang mampu menjawab tantangan besar, mulai dari pembinaan usia dini hingga membawa pemain Papua bersaing di level global.

“Kalau kita serius mau Papua kembali jadi barometer sepak bola Indonesia, maka kita harus berani memilih figur yang punya kapasitas, bukan sekadar popularitas,” kata HYU.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat Papua, pecinta sepak bola, dan para pemangku kepentingan untuk bersatu mendukung MDF demi kemajuan bersama.

“Mari kita tinggalkan perdebatan yang tidak produktif. Saatnya kita bersatu. Sepak bola Papua harus bangkit dan menjadi lumbung talenta, bukan hanya untuk Indonesia, tapi untuk dunia,” ujarnya penuh semangat.

Menutup pernyataannya, HYU menyampaikan harapan besar agar momentum ini menjadi titik balik kebangkitan sepak bola Papua.

“Papua diberkati dengan talenta luar biasa. Tinggal kita siapkan sistem dan kepemimpinan yang tepat. Saya percaya, dengan Pak MDF, Tuhan akan buka jalan bagi kebangkitan sepak bola Papua,” tutupnya. ( Penulis Hengky Bagre/Editor Vio/Jamaludin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *