Jayapura. Aroma tak sedap mulai menyelimuti atmosfer Pemungutan Suara Ulang (PSU) di Papua. Alih-alih menyuguhkan adu visi dan gagasan, publik justru dijejali propaganda sektarian, ujaran kebencian, dan hoaks terstruktur yang diduga kuat bersumber dari “rumah produksi konten gelap” milik kubu BTM-CK.
Investigasi redaksi menemukan jejak digital dari akun-akun buzzer pro-BTM yang secara sistematis menyebarkan fitnah, manipulasi, hingga konten provokatif di media sosial. Tujuannya jelas: menggiring opini publik dengan memainkan isu suku, agama, dan asal daerah demi mendulang simpati elektoral secara instan.
Hoaks Bermuatan SARA, MDF Diserang Karena Agama
Salah satu isu paling mencolok adalah tudingan bernuansa diskriminatif terhadap calon gubernur MDF yang dikemas dalam meme dan video bernada sarkastik. Narasi itu secara terselubung mengajak masyarakat untuk menolak MDF hanya karena keyakinannya — sebuah taktik kotor yang jelas mengoyak prinsip toleransi dan kerukunan Papua.
Tim MDF-AR: Kami Bawa Kasih, Bukan Kebencian
Sekretaris Tim Koalisi MDF-AR, Apedius Mote, menanggapi fenomena ini dengan tenang namun tegas. Dalam pernyataan resmi, Minggu (22/6), ia menolak keras praktik politik adu domba dan penyesatan publik.
“Kami datang membawa kasih yang menyatukan, bukan membelah. Papua adalah rumah damai, dan semua anak Papua, dari gunung hingga pantai, adalah satu saudara,” tegas Apedius.
Menurutnya, serangan terhadap MDF justru bertolak belakang dengan rekam jejak sang kandidat yang dikenal sebagai jembatan antaragama dan antarbudaya. MDF bahkan berkali-kali menyerukan pentingnya merawat persatuan tanpa prasangka.
Pola Serangan Terstruktur: Ada Apa di Balik Akun Buzzer Pro-BTM?
Apedius membeberkan bahwa pola penyebaran hoaks terhadap MDF-AR bersumber dari tim media yang bekerja secara terorganisir — layaknya “pabrik hoaks” politik. Mereka tak hanya membuat meme dan video pendek, tetapi juga rekayasa tangkapan layar untuk menggiring persepsi publik.
“Ini bukan sekadar kampanye negatif biasa. Ini kerja sistematis yang sangat terencana,” ujarnya.
Salah satu unggahan yang disorot menyebut bahwa kriminalisasi dan pembungkaman kritik dilakukan oleh kubu MDF. Sebuah narasi yang dibantah keras oleh tim MDF-AR sebagai upaya membalikkan fakta dan menciptakan playing victim.
Drama Politik ala Drakor: Gaya Komunikasi Kubu BTM Jadi Bahan Tertawaan
Lebih jauh, Apedius menyindir gaya komunikasi kubu BTM-CK yang disebutnya lebih cocok masuk ke sinetron Korea (drakor) ketimbang arena kontestasi demokrasi.
“Alih-alih gagasan, yang mereka sajikan justru melodrama politik: penuh air mata, narasi manipulatif, tapi miskin substansi. Kami menyebutnya ‘politik drakor’,” sindirnya.
Publik Papua Diimbau Tak Terjebak Emosi Identitas
Menutup pernyataannya, Apedius menyerukan agar masyarakat Papua tak larut dalam emosi sektarian. Ia mengingatkan, yang dipilih nanti bukan sekadar sosok di baliho, melainkan nahkoda masa depan Papua yang plural dan harmonis.
“Papua bukan milik satu kelompok. Ia adalah rumah bersama. Mari kita jaga agar jangan rusak hanya karena ambisi kekuasaan yang sempit,” pungkasnya.














